Ini tulisan saya yang sudah
lama sekali. Setahun yang lalu. Saya pernah post di blog
pecintamatematik4.blogspot.com. Blog saya yang akhirnya juga saya
telantarkan.hehehe. Filsafat memang memusingkan, tapi juga terkadang menyegarkan pikiran. Semoga berlaku untuk anda juga. Happy reading..
--------------
Baru
saja seorang teman menanyakan tentang filsafat ilmu. Dia sedang mulai menempuh
gelar masternya. Saya jadi teringat waktu saya juga ‘berdarah-darah’ berusaha
mengaktualisasikan diri saya untuk mendapat gelar itu. Hemm...seorang profesor
keren yang dulu mengajar saya. Doktornya memang di bidang filsafat matematika.
Beliau menceritakan pengalaman-pengalamannya yang begitu aduhai tentang
bagaimana memahami matematika dari sudut pandang filsafat. BEAUTIFUL... itu
bisikan yang keluar dari mulut saya waktu itu.
Kita
yang hampir setiap waktu dijejali dengan masalah tentang bagaimana cara kita
mengajar matematika agar anak-anak suka dan BISA, kemudian diberi semilir angin
segar pemikiran, bahwa yang perlu kita pahami bukan tentang cara terbaik dalam
mengajar, tetapi memahami ilmu matematika itu sendiri secara utuh (Hersh, 1979:
33). Mungkin kalimat tersebut menimbulkan pertanyaan, kita ini guru matematika,
bagaimana mungkin memahami ilmu menjadi lebih penting daripada cara
menyampaikan ilmu matematika itu sendiri?
Jawabannya
adalah mungkin saja. Cara menyampaikan ilmu matematika berkaitan erat dengan
konsep-konsep pembelajaran matematika, yang secara spesifik tertuang dalam
silabus, rencana-rencana pelaksanaan pembelajaran, dan hal-hal teknis lain.
Terkadang kita lupa, bahwa pemikiran kita, prinsip-prinsip yang sudah terlanjur
tertanam dalam otak kita para guru, mempengaruhi apa yang kita susun.
Kita tidak dapat
memungkiri, coba renungkan baik-baik, masing-masing diri kita memiliki
keyakinan tersendiri tentang matematika. matematika memang ilmu yang di seluruh
dunia sama, tetapi mengenai keyakinan kita, pola karakter kita terhadap
matematika, berbeda. Pola karakter tersebut yang membentuk pola kita dalam
mengajar matematika. Karena itulah setiap guru memiliki cara tersendiri dalam
mengajar (Thompson 1984, 19992). Dan, karena itu pulalah memahami ilmu
matematika dapat dikatakan menjadi lebih penting.
Hemmh...membahas
filsafat memang membuat pusing.hihihii.. Ini hanya sekedar selingan di tengah
penatnya kita dalam rutinitas. Dan, pemikiran ini bukan asal keluar dari otak
saya, tapi dari membaca beberapa jurnal. Hehe, bukan plagiat juga lho... Just
sharing^^
Rabu, 1 Mei 2013
09:28 WI Bagian Kantor Guru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar